| Posted at 07:04 PM on January 27, 2009 |
Part 3
The Past ‘Below the Sakura Tree’
Toshi berbaring di atas kursi santai yang ada di dekat kolam renang pribadinya dengan Yoshiki, tangannya meraih kacamata hitamnya yang selalu ada disana, di atas meja disamping kursi santainya, Toshi memandang ke langit yang cerah hari itu setelah dia memakai kacamata hitamnya.
Matanya melihat beberapa awan yang sedang bergerak, sedangkan pikirannya kembali kemasalalunya.
Saat sakura bermekaran dimana-mana, saat keharumannya tertiup terbawa angin keseluruh kota.
“Saat sakura bermekaran dimana-mana…” gumamnya
“Sakura…”
“Sakura…….”
“Sakura!!” Yoshiki berteriak saat dia bangun dari tempat tidur futonnya dan melihat se-vas penuh sakura yang segar di sampingnya, Dia langsung bangkit dan mencium harumnya sakura itu, Senyum manis menghiasi wajahnya saat dia merasakan lembutnya dan harumnya sakura-sakura itu saat dia menyentuhnya.
“Kau suka?” Terdengar suara dari arah pintu kamarnya yang kecil, Toshi berdiri di antara pintu kamar Yoshiki.
Wajah Yoshiki memerah, terkejut meliat Toshi tiba-tiba ada disana, melihatnya memeluk sakura-sakura itu seperti anak kecil, yang baru mendapatkan mainan yang selama ini dia inginkan.
“Hem” Yoshiki tersenyum dan mengangguk, wajahnya semakin memerah.
Toshi berjalan menghampirinya dan duduk di hadapan Yoshiki.
“Anak perempuan dari pemilik apartement ini yang memberikannya pada kepadaku pagi tadi” Toshi berkata sampil memetik sebuah sakura dari batangnya dan mencium keharumannya.
Raut wajah Yoshiki berubah saat dia mendengar dari mana bunga itu berasal, dan menaruh sakura itu kembali ke vasnya.
“Kenapa?” Toshi bertannya, “apa ada yang salah?” lanjutnya, saat Toshi melihat ada perubahan di raut wajah Yoshiki.
“Oh, tidak” Yoshiki menjawab dengan dingin dan memutuskan untuk berdiri dan berjalan keluar kamarnya.
Langkahnya terhenti saat dia hampir sampai ke depan pintu kamarnya-saat dia mendengar suara Toshi.
“Cemburu ya…?” Toshi berkata menggodanya sambil menahan tawanya.
Mendengar Toshi berbicara begitu, wajah Yoshiki memerah, seluruh tubuhnya seakan dialiri hawa dingin, hawa itu langsung menghilang saat Toshi mulai tertawa.
Yoshiki membalikan badannya dan mengelurarkan lidahnya mengolok Toshi. Melihat itu Toshi tertawa semakin menjadi-jadi.
“Aku mau mandi” Yoshiki berkata dengan malas, saat melihat teman terbaiknya sejak mereka kecil selalu berhasil meledeknya.
Toshi tersenyum dalam lamunanya mengingat masalalunya dengan Yoshiki.
“Yoshiki… Sejak dulu aku selalu berfikir, kamu sangat cantik… dan hari itu… Yukata membuat mu terlihat lebih cantik…” gumam Toshi
“Yoshiki…”
Suara Toshi menghilang saat dia terkejut melihat Yoshiki muncul dihadapannya dengan yukatannya. Toshi hanya melihat Yoshiki dengan penuh kekaguman dan keheranan, bagai mana bisa Tuhan menciptakan pria secantik ini.
Wajah Toshi memerah saat matanya bertemu mata Yoshiki, dan tiba-tiba merasa gugup menghampirinya, detak jantungnya semakin kencang, terlebih lagi saat Yoshiki hanya tersenyum melihat reaksi Toshi.
“Uhm…. Ayo…” Toshi berkata, dan mulai berjalan kearah pintu apartemen mereka.
“Err… Toshi… Keranjangnya…” Yoshiki berkata sambil menunjuk sebuah keranjang yang sudah di isi oleh Toshi dengan makanan dan minuman serta alas duduk yang sudah dia siapkan dari pagi, sebelum Yoshiki bangun, yang terletak di atas meja.
“Eh…” Toshi menoleh dan sadar dia melupakan keranjang itu, dan berjalan mengambil keranjang itu.
“Sebenarnya tidak apa-apa, kalau kamu mau kita kelaparan seharian saat di sana…” Yoshiki berkata sambil tertawa meledek Toshi.
Toshi pun tertawa mendengar itu, dan mereka berdua berjalan keluar apartement mereka, dan berjalan keluar gedung apartemen kecil itu.
Mereka berjalan dalam keheningan. Menyadari hal itu Toshi melihat kearah Yoshiki, dia seperti sedang berfikir, dan terhanyut dalam pikirannya, bahkan Yoshiki tidak sadar Toshi sedang melihatnya.
Toshi berniat membuka pembicaraan saat dia melihat orang-orang yang berjalan disekeliling mereka memerhatikan mereka.
“Semua orang sepertinya memperhatikan kita” Toshi berbicara sambil menghela nafas, tanpa menoleh kearah Yoshiki.
“Eh?... apa?... Benarkah?” Yoshiki menoleh kearah orang-orang itu, mereka semua langsung mengalihkan pandangan saat menyadari orang yang mereka lihat telah menyadarinya.
“Sepertinya mereka terpesona oleh mu” Toshi berkata
“Aku? Yang benar saja… kenapa?” Yoshiki berkata
“Uhm”… Toshi berpura-pura seolah berfikir, dan mulai melihat Yoshiki dari atas hingga bawah berulang kali “Kurasa karena mereka bingung, sebenarnya kamu laki-laki atau perempuan…” Toshi tertawa saat melihat ekspresi Yoshiki mendengar perkataannya.
Yoshiki hanya cemberut melihat Toshi tertawa, dan tangannya memukul kepala Toshi-walau tidak dengan tenaga yang kuat-membuat Toshi berhenti tertawa.
“Sakit tau…” Toshi memegang bagian kepalanya yang habis di pukul Yoshiki.
“Disana saja” Yoshiki menunjuk kearah di sebelah kirinya saat mereka telah sampai di sebuah taman kota yang luas yang di penuhi sakura-sakura yang sedang bermekaran, tanpa memperdulikan keluhan Toshi.
Mereka berjalan ketempat yang Yoshiki tunjuk, di taman itu sudah terlihat beberapa keluarga tengah menikmati piknik dibawah pohon sakura.
Toshi melihat Yoshiki berusaha tidak melihat kearah keluarga-keluarga yang terlihat bahagia itu, dan mempercepat langkah kakinya.
“Yoshiki…” Toshi berbisik tanpa bisa didengar Yoshiki, merasakan kesedihan yang sedang melanda temannya melihat pemandandan itu.
Setelah mereka sampai ketempat yang Yoshiki inginkan, tempat itu agak terpencil dan jauh dari jangkauan yang lain, walaupun Yoshiki memang tidak salah memilih tempat itu, pohon sakura di tempat itu terlihat lebih besar dari yang lainnya, pantulan air di danau yang terkena matahari mengiasi pemandangan disekitar tempat itu.
Toshi membuka keranjang yang dibawanya, mengeluarkan alas untuk tempat mereka duduk, mereka berdua meletakan alas itu dibawah pohon sakura itu, dan duduk disana, mereka mengeluarkan semua makanan yang Toshi telah persiapkan.
Yoshiki masih tidak bersuara sedikitpun. Toshi membuka botol jus, dan menuangkannya kesebuah gelas dan memberikannya keYoshiki “Ini ambilah” Toshi tersenyum saat Yoshiki melihat kearahnya.
Yoshiki menerimannya dan meminum sedikit lalu meletakkannya di atas keranjang. “Jangan dipikirkan…” Suara lembut Toshi terdengar pelan, tangannya meraih wajah Yoshiki dan menghapus air mata yang hampir saja keluar dari matannya.
“Semua akan baik-baik saja… kamu tidak sendiri, aku disini bersama mu” Yoshiki tidak dapat membendung air matanya saat mendengar Toshi berbicara begitu.
Tangan Yoshiki meraih Toshi untuk memeluknya, dan menangis dalam pelukannya “Menangislah… semua akan lebih baik setelah kamu mengeluarkannya, tidak baik memendam semuannya sendiri” Toshi membelai rambut Yoshiki “Apa kamu masih tidak mempercayaiku…”
Yoshiki menggelengkan kepalanya, suaranya tangisnya semakin terdengar, tangannya memeluk Toshi lebih erat lagi. “Bu…bukan begitu…” Yoshiki berusaha berbicara dalam tangisnya.
“Aku…” Yoshiki tidak bisa melanjutkan perkataannya, badannya bergetar. “Tidak apa-apa… tidak perlu sekarang, kamu bisa membicarakan itu saat kamu sudah siap” Yoshiki menggelengkan kepalanya lagi saat mendengar Toshi berkata begitu.
Yoshiki berusaha menghentikan air matanya yang mengalir, sementara Toshi masih memeluknya dan berusaha menenangkannya, saat Yoshiki menjadi lebih tenang, dia mulai berbicara.
“Toshi… “ suaranya terdengar begitu pelan dan rapuh.
“Ya” Toshi membalasnya dengan suara yang lembut.
“Berjanjilah… kamu akan tetap berada didekat ku walau apapun yang aku katakan… “ suara Yoshiki terdengar bergetar.
“Tentu saja Yoshiki, aku berjanji” Toshi merasakan kebingungan melihat reaksi Yoshiki.
“Aku tidak akan memaksa mu menerimanya… hanya… tolong jangan pergi… aku berjanji, aku tidak akan melakukan apa pun yang bodoh, walaupun kamu menolaknya”
“Yoshiki…” Toshi semakin tidak mengerti, tapi tetap berusaha menenangkan Yoshiki dengan membelai rambutnya dan punggungnya.
“Tolong jangan berkata apapun sebelum aku selesai berbicara” Yoshiki memohon pada Toshi, memeluknya lebih erat lagi.
Angin musim semi bertiup membuat sakura-sakura berguguran, seperti salju yang turun dari langit, membawa keharumannya dan memberikannya kepada setiap orang yang menikmatinya.
“Toshi… Aku percaya pada mu, sejak dulu, sejak kita masih kecil, sejak kita pertama kali bertemu… tanpa keraguan sedikitpun” Yoshiki mulai berkata dengan suara yang masih bergetar
“Cuma kamu satu-satunya teman terbaik ku… kamu selalu didekatku, walau apapun yang terjadi, walaupun aku selalu menyulitkanmu… bahkan….” Suara Yoshiki penuh dengan emosi kesedihan lagi.
“Kamu bahkan rela melepaskan cita-cita mu menjadi dokter untuk menemani ku ke Tokyo… Membantuku mengejar mimpi ku, walau itu harus merusak mimpi mu… Toshi…” Yoshiki berhenti sejenak karena merasa tidak sanggup meneruskannya, sebuah air mata menetes dari mata Yoshiki, saat dia mengingat itu semua, mengingat segala kebaikan yang telah Toshi berikan padanya sejak kecil.
“Cuma pada mu aku bisa menceritakan segalanya, segala kesedihan, dan air mata, cuma padamu…dan kamu selalu membantuku, menjagaku, melindungiku… dari apapun, bahkan saat aku membuat masalah, kamu selalu disana untuk membantuku keluar dan menyelamatkanku” Yoshiki berusaha untuk tidak menangis dan melanjutkan berbicara.
“Ini bukan tentang Ayahku, Ku akui melihat pemandangan itu, membuat ku mengingatnya lagi, dan merindukannya, Tapi…tapi… saat ini bukan itu yang benar-benar mengganggu pikiran ku… aku…”
Yoshiki melepaskan pelukannya dan menegakan kepalanya memandang Toshi, walau tangannya masih berada di pinggang Toshi
“Deyama Toshimitsu… Aishiteru”
Categories: Fanfic